Dropship vs Reseller

Berpikir untuk mendapatkan tambahan pendapatan? Ada banyak cara untuk dieksekusi. Dua ide bisnis yang paling sering terlintas adalah menjadi reseller maupun sebagai dropshipper. Mari kita kulik lebih dalam perbedaan Dropship vs Reseller.

Pengertian Dropship dan Reseller

Dropship dan reseller terkesan sebagai dua bentuk pekerjaan yang sama. Baik dropshipper maupun reseller, kamu akan menjualkan produk orang lain ke konsumen akhir. Tentu saja. Kamu bukan produsen atau pihak yang membuat produk yang dijual. Bedanya terletak pada sistem kerja.

Hal yang paling signifikan terlihat dari penyimpanan barang. Ketika kamu menjadi reseller, kamu akan melakukan stok barang di gudang atau area pribadi. Kamu perlu mengalokasikan tempat untuk hal ini.

Ketika ada pesanan, barang stok barang di gudang milikmu akan berpindah untuk dikirim ke pelanggan. Sehingga prosesnya akan menjadi demikian:

Terdaftar sebagai reseller 🡪 Mengambil barang dari supplier 🡪 Simpan di gudang pribadi 🡪 Kirim ketika ada pesanan ke pelanggan.

Sementara itu, dropshipper punya perbedaan di bagian penyimpanan produk. Ketika ada pemesanan di toko milikmu, kamu hanya tinggal menginfokan ke supplier. Nantinya, supplier akan mengirimkan pesanan tersebut ke alamat pelanggan.

Lalu, pelanggan jadi tahu supplier-nya dong? Tidak. Dalam pengiriman tersebut, identitas bisnismu akan tercantum sebagai penjual produknya. Proses yang terjadi menjadi demikian:

Terdaftar sebagai dropshipper 🡪 Melakukan pemasaran 🡪 Mendapatkan pesanan pelanggan 🡪 Info ke supplier 🡪 Supplier mengirimkan produk ke pelanggan.

Perbedaan dan Plus-Minus Dropship dan Reseller

Dari penjelasan di atas kita bisa melihat satu perbedaan mendasar antara dropship dan reseller. Lalu apakah hanya itu perbedaan keduanya? Tidak. Kita bisa melihat dari fokus kerja yang dilakukan keduanya. Reseller memiliki produk fisik yang akan dijual. Ia bisa saja melakukan hard selling secara langsung ke konsumen akhir. Menjual produk secara online maupun offline sangat memungkinkan.

Ini memberikan kesempatan bagi konsumen yang lebih menyukai belanja secara langsung dan melihat produknya.

Keuntungan lain dari menyimpan sendiri produk yang dijual adalah para reseller bisa melakukan kontrol kualitas atau Quality Control (QC). Ini adalah bagian dari keunggulan bisnis reseller karena mereka bisa memastikan produk yang dikirim dalam keadaan sempurna.

Ilustrasi stok produk reseller – Sumber: Pixabay

Ketika ada sedikit kekurangan, reseller memiliki kesempatan untuk memperbaikinya lebih dulu sebelum dikirim ke konsumen.

Sedangkan dropshipper, penjualan produk mereka terbatas pada sarana media online. Biasanya para dropshipper akan “bermain” di beberapa situs marketplace. 

Meski terbatas secara ketersediaan fisik produk yang dijual, para dropshipper akan lebih fokus mengoptimalkan marketing mereka. Dikarenakan fokus satu hal, dropshipper tidak dipusingkan urusan penyimpanan produk dan segala risikonya.

Kita juga bisa melihat perbedaan keduanya dari sisi risiko. Risiko yang paling terlihat adalah mengenai penyimpanan produk. Para reseller harus mampu menyimpan produk dengan baik sampai nantinya produk itu terjual.

Kerusakan produk yang disimpan dapat menjadi potensi kerugian reseller. Meski begitu, perbedaan di bagian margin keuntungan lebih berpihak kepada reseller.

Baca Juga: Tips Belajar Bisnis Online untuk Pemula yang Perlu Kamu Tau!

Meskipun sama-sama bebas menentukan harga produk, potensi margin keuntungan reseller cenderung lebih besar. Ketika para dropshipper akan menjual produk, harga pokok produk sudah ditentukan oleh supplier.

Dropship vs Reseller, siapa yang profitnya lebih besar? – Sumber: Pixabay

Dropshipper tinggal menambahkan keuntungan mereka. Seni menentukan harga produk di dropship adalah bagaimana harga mereka bisa bersaing dengan penjual lainnya.

Beberapa dropshipper yang pintar melakukan branding dan memilih produk dengan minat tinggi mungkin saja mendapatkan margin yang lebih besar dari reseller.

Sementara itu, umumnya para reseller akan mendapatkan harga pokok produk yang cenderung lebih rendah. Ketika mereka menjual dengan harga yang sama seperti harga barang dropship, keuntungan reseller menjadi lebih besar. Tapi tentu saja, kita harus memperhatikan risiko seperti yang dijelaskan sebelumnya.

Mana yang Lebih Direkomendasikan, Dropship atau Reseller?

Pertanyaan mengenai bisnis mana yang akan dipilih tentunya kembali pada perorangan masing-masing. Dengan mempertimbangkan perbedaan dan plus-minus di atas, kamu bisa menentukan bisnis mana yang sekiranya cocok.

Biar ku perjelas. Jika kamu adalah seseorang yang sudah memiliki pekerjaan tetap, rutinitas tetap, namun ingin berbisnis, maka pilihan dropshipper akan lebih cocok untukmu.

Namun, jika ternyata kamu tidak memiliki aktivitas tetap yang menguras waktu, pilihan reseller mungkin akan lebih cocok.

Kalau ada pertanyaan lebih detail lagi, misalnya kamu menitikberatkan pengalaman berjualan yang nihil, aku akan lebih menyarankan untuk sistem dropship lebih dulu. Ya, lebih dulu.

Baca Juga: 5 Hal yang Harus Diperhatikan Agar Bisnis Online Menjadi Sukses

Artinya kamu mungkin akan beralih untuk berjualan secara reseller, atau mungkin bahkan memproduksi produkmu sendiri nantinya.

Apakah hal ini berarti menunjukkan dropshipper tidak lebih baik daripada bisnis reseller? Tidak juga. Lagi-lagi, semuanya kembali pada kebutuhan dan kondisi masing-masing.

Dropship menjadi bisnis yang lebih direkomendasikan untuk “pedagang pemula” karena relatif minim risiko. Low risk low return, itu yang perlu diperhatikan. Namun, dari berjualan secara dropship, kamu bisa belajar banyak hal. Pelajaran tersebut justru inti dari seni berjualan: how to being a good marketer.

Dalam menjadi dropshipper, kemampuanmu dalam memasarkan produk akan sangat terasah. Mulai dari mengenali karakter target konsumen sampai bagaimana treat yang baik agar konsumen tetap loyal.

Pentingnya membangun loyalitas konsumen – Sumber: Pixabay

Kamu sangat mungkin untuk mengalami perkembangan bisnis hingga akhirnya menjadi reseller, atau siapa tahu distributor resmi. Lagi-lagi dalam step ini kamu akan belajar hal baru selain hanya fokus pada penjualan produk. Pengelolaan stok, penyaluran barang, sampai akhirnya nanti mengelola karyawan di bawah nama bisnismu. Beberapa hal tadi adalah contoh saja.

Jika ada pertanyaan serupa mengenai mana yang harus dipilih, kamu tidak harus bingung. Jawabannya, sesuaikan dengan kondisimu. Yang perlu diingat, bisnis bukan sesuatu yang terwujud dalam semalam.

Ini membutuhkan proses dan proses membutuhkan ketekunan. Jadi, apa pun pilihanmu untuk berbisnis, pastikan kamu melakukannya dengan niat dan strategi yang paling cocok denganmu.

Kalau hatimu langsung tergerak dan segera ingin memulai bisnis dropship, kebetulan saya punya sebuah kursus di Udemy. Kursus ini secara khusus membahas bagaimana cara memulai bisnis dropship dengan modal minim, lengkap dengan rekomendasi suppliernya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *