Selamat pagi…
Pagi ini saya bangun dari kasur yang berbeda, dengan suasana rumah yang berbeda, dan kualitas sinyal yang berbeda. Iya, pagi ini saya sudah berada dikampung halaman, tempat dimana saya dilahirkan dan dibesarkan.
Pagi ini saya menulis khusus curhatan perjalanan mudik saya kemarin, semoga ada yang berniat membaca hingga selesai :D.

Sedihnya Mudik Melewati Jalan Negara

Kamis, 19 Desember 2013, pagi-pagi sekali saya sudah terjaga untuk segera menyiapkan semua barang-barang yang akan dibawa mudik. Saya kembali ke kampung halaman dalam rangka merayakan hari raya Naral dan kebetulan liburnya ada sekitar dua minggu, waktu yang cukup untuk melepas kangen dengan keluarga. Sayangnya, cuaca pagi ini kurang bersahabat, hujan turun sejak jam lima pagi, menjelang jam setengah tujuh belum juga reda. Akhirnya saya memutuskan untuk membeli sarapan terlebih dahulu sembari menunggu hujan reda.

Selesai sarapan, tepat jam tujuh pagi hujan belum juga reda, akhirnya dengan modal nekat, saya bersama seorang teman memutuskan untuk menerobos hujan, dilengkapi dengan masing-masing satu buah mantel, dua buah sepeda motor meluncur menerobos hujan, menempuh perjalanan Pontianak-Sekadau.
Saya tinggal di pontianak bersama seorang teman, sudah dua tahun tinggal di kota khatulistiwa ini, untuk menyelesaikan titel diploma. Singkat cerita, setelah menerobos hujan sekitar setengah jam hujanpun reda. Inilah rute pertama yang kami lewati, jalannya sangat mulus.

Kondisi Jalan Lintas Negara
Sayangnya, jalan mulus yang kami lewati hanya bisa dinikmati sekitar dua jam, setelah keluar dari jalan tayan tersebut, kami melewati jalan rute Simpang Ampar-Sosok. Jalan ini merupakan jalan penghubung antara negara Indonesia dengan Malaysia. Ingin melihat bagaimana indahnya jalan lintas negara? inilah penampakannya :

Kondisi Jalan Lintas Negara
Ada Kolamnya 😀
Kondisi Jalan Lintas Negara
Mirip Jalan Keladang :”

Sangat miris bukan, banyak sekali adegan menyedikan sekaligus lucu yang tidak sempat saya abadikan dalam kamera ponsel saya. Mengingat medan yang begitu licin, saya harus lebih berhati-hati dalam mengendarai motor, tidak disarankan membawa motor sembari mengambil gambar seperti saya, ini adalah pelanggaran lalu lintas 😀

Sejauh ini, sudah banyak orasi masyarakat terkait jalan lintas negara yang rusak parah. Bermacam bentuk protes pun muncul, sebut saja salah satunya “Gerakan Rp.1000 Untuk Jalan Lintas Negara”. Sayangnya, sampai saya melintasi jalan itu, belum ada perbaikan yang cukup berarti yang saya lihat, bahkan sepertinya belum ada perbaikan sama sekali.
Mobil-mobil dengan muatan tidak layak pun tetap melewati jalan ini, sehingga membuat antri para pengguna jalan lain.

Kondisi Jalan Lintas Negara
Ambil Hikmahnya, jadi tertib ngantri 😀

Saya tidak ingin ikut terlibat dalam bentuk-bentuk protes tersebut, karen jelas itu diluar porsi saya, hanya saja saya ingin mengatakan sesuatu :
“Perjalanan kami menjadi lebih indah dan berwarna coklat setelah melewati jalan lintas negera yang begitu menggemaskan.”

Andre.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

5 replies on “Sedihnya Mudik Melewati Jalan Lintas Negara Indonesia-Malaysia”

  • December 20, 2013 at 12:42 am

    Hiks … selalu. Pemerintah ituh apa hanya punya satu otak yah? kok banyak banget pr mereka. Bukannya pemerintah itu terdiri dari kabinet dan jajaran … hm. aneh. Kondisi Sampit ya nggak jauh berbeda tuh kang …

  • December 20, 2013 at 3:45 am

    Wahhh,, jalan lintas negara nya sangat memprihatinkan,, mana nehh pemerintahhh mana neh para pejabatnya,, jangan pada nutup mata dong liat yang beginian,,, korupsi aja digedein…

  • December 20, 2013 at 2:44 pm

    lah jalan nya gitu amat yah, sayang nih pembangunan nya blm merata —

  • February 6, 2015 at 7:12 pm

    Ini udah 2015, apa belum ada perubahan ? Saya asli kab.Sekadau. Sedih gan, ntar kalo misalnya pulkam sakitnya tuh dimana-mana

    • February 7, 2015 at 12:50 am

      Syukurlah sekarang sudah agak membaik mas 🙂